Hipertensi meupakan suatu keadaan
tekanan darah lebih dari sama dengan 140/90 mmHg (sistol/diastol) yang terjadi
secara presisten. Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular utama
diseluruh dunia, dimana pada tahun 2000 terdapat 26% populasi dewasa di dunia
mengalami hipertensi, pada tahun 2025 mendatang diperkirakan akan terjadi
peningkatan penderita hipertensi sebesar 60%. Keberhasilan
pengontrolan hipertensi tergolong sangat rendah dimana hanya 5-58% pasien
hipertensi yang dapat mempertahankan tekanan darahnya kurang dari 140/90 mmHg. Tujuan utama terapi hipertensi adalah
mengurangi resiko terjadinya mortalitas
dan morbiditas yang berhubungan dengan kerusakan organ target misalnya kejadian
kardiovaskular atau serebrovaskular, gagal jantung dan penyakit ginjal(2).
Apoteker
merupakan sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan
sumpah jabatan Apoteker(3). Standar kompetensi yang harus dimiliki
seorang apoteker salah satunya adalah mampu melakukan konseling sediaan farmasi
dan alat kesehatan. Standar pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit, Puskesmas dan
Apotek memuat konseling apoteker sebagai salah satu pelayanan farmasi yang
diberikan kepada pasien.
Konseling
obat adalah suatu aktivitas pemberian nasihat atau saran terkait terapi obat
dari Apoteker kepada pasien dan/atau keluarganya. Konseling untuk pasien rawat
jalan maupun rawat inap disemua fasilitas kesehatan dapat dilakukan atas
inisiatif Apoteker, rujukan dokter, keinginan pasien atau keluarganya. Tidak
semua pasien yang datang ke fasilitas kesehatan harus diberikan konseling.
Pasien yang perlu diberikan konseling adalah pasien yang
memenuhi kriteria untuk diberikan konseling yaitu pasien dengan kondisi khusus, pasien dengan terapi jangka panjang atau penyakit kronisi, pasien yang menggunakan obat-obatan dengan instruksi khusus, pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit, pasien yang menggunakan banyak obat dan pasien yang mempunyai riwayat kepatuhan rendah. Tujuan dilakukannya konseling adalah meningkatkan hubungan kepercayaan antara apoteker dengan pasien, menunjukkan perhatian serta kepedulian terhadap pasien, membantu pasien untuk mengatur dan terbiasa dengan obat, meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, mencegah atau meminimalkan masalah terkait obat serta membimbing pasien dan mendidik pasien dalam penggunaan obat sehingga dapat mencapai tujuan pengobatan dan meningkatkan mutu pengobatan pasien(4).
memenuhi kriteria untuk diberikan konseling yaitu pasien dengan kondisi khusus, pasien dengan terapi jangka panjang atau penyakit kronisi, pasien yang menggunakan obat-obatan dengan instruksi khusus, pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit, pasien yang menggunakan banyak obat dan pasien yang mempunyai riwayat kepatuhan rendah. Tujuan dilakukannya konseling adalah meningkatkan hubungan kepercayaan antara apoteker dengan pasien, menunjukkan perhatian serta kepedulian terhadap pasien, membantu pasien untuk mengatur dan terbiasa dengan obat, meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, mencegah atau meminimalkan masalah terkait obat serta membimbing pasien dan mendidik pasien dalam penggunaan obat sehingga dapat mencapai tujuan pengobatan dan meningkatkan mutu pengobatan pasien(4).
Apoteker
perlu melakukan konseling kepada pasien hipertensi karena walaupun hipertensi
merupakan suatu kondisi medis yang umum dijumpai, tetapi kontrol tekanan darah
pasien hipertensi masih buruk. Apoteker harus melakukan pendekatan kepada
pasien dengan cara melakukan konseling dengan memberikan pengetahuan tentang
penyakitnya, memastikan pasien menggunakan obat yang telah direspkan oleh
dokter dengan cara yang tepat serta memberikan edukasi kepada pasien untuk
melakukan modifikasi gaya hidup. Apoteker sebagai tenaga kesehatan berada dalam
posisi strategis untuk melakukan pendekatan kepada pasien, apoteker dapat
menjadi perantara antara pasien dan dokter dalam hal terapi farmakologi maupun
terapi non farmakologi.
Salah satu faktor
penting yang dapat mempengaruhi pengontrolan tekanan darah pasien adalah
kepatuhan, dimana kepatuhan pasien sangat beragam antara lain mendapatkan resep
yang tidak utuh, menggunakan dosis yang tidak tepat, menggunakan obat diwaktu
yang salah, lupa mengkonsumsi satu atau lebih dosis obat dan menghentikan
pengobatan segera. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan pasien pada
pengobatan penyakit yang bersifat kronis pada umumnya rendah. Pada tahun 2003,
WHO mengemukakan bahwa diperkirakan terdapat 50% hingga 70% pasien hipertensi
yang tidak patuh terhadap penggunaan antihipertensi yang telah diresepkan(5).
Ketidakpatuhan pasien hipertensi salah satunya dapat dikurangi dengan
memberikan edukasi kepada pasien mengenai gejala hipertensi yang tidak
terdeteksi dan pentingnya pengobatan untuk mengontrol hipertensi. Edukasi dan
komunikasi yang terjalin antara pasien dan tenaga kesehatan telah terbukti
mampu meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. Sebuah penelitian menunjukkan
bahwa konseling dapat meningkatkan kepatuhan dalam menjalankan pengobatan, yang
pada akhirnya dapat mencapai efek klinis yang diharapkan dari pengobatan
hipertensi(6).
Pengetahuan pasien
terkait hipertensi merupakan upaya pengontrolan tekanan darah pasien selain
kepatuhan, khususnya pengetahuan mengenai dampak hipertensi yang tidak
terkontrol(7). Konseling oleh apoteker kepada pasien mengenai dampak
hipertensi yang tidak terkontrol dan bagaimana cara mencegah nya sangat
diperlukan. Apoteker dapat menyampaikan kepada pasien agar hipertensinya dapat
terkontrol maka pasien harus mengkonsumsi obat secara teratur sesuai dengan
aturan pakainya, tidak menghentikan pengobatan secara tiba-tiba tanpa ada
instruksi dari dokter, menyarankan pasien untuk rutin melakukan pemeriksaan
tekanan darah, menyarankan pasien untuk melakukan modifikasi gaya hidup dan
menyampaikan kepada pasien mengenai penyakit-penyakit lain yang sangat berbahaya
yang akan muncul apabila hipertensi tidak terkontrol seperti arteri koroner,
gagal jantung, stroke dan gagal ginjal. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa
memberikan pengetahuan kepada pasien mengenai akibat yang akan muncul dari
hipertensi yang tidak terkontrol meningkatkan kewaspadaan pasien terhadap
peningkatan tekanan darah(8).
Konseling yang
diberikan apoteker kepada pasien hipertensi dapat memberikan kepercayaan kepada
pasien terhadap pengobatan yang didapatkannya. Kepercayaan terhadap pengobatan
merupakan salah satu faktor yang penting dalam ketaatan pasien dalam
mengkonsumsi obat dimana jika obat-obatan yang diresepkan dikonsumsi secara
teratur oleh pasien maka dapat menurunkan tingkat mortalitas dan meningkatkan clinical outcome pasien(9). Apoteker
dapat memberikan penjelasan kepada pasien alasan pasien diresepkan obat
tersebut, menjelaskan secara singkat bagaimana cara kerja obat tersebut didalam
tubuh, efek terapi yang dihasilkan dari obat tersebut serta efek samping yang
mungkin terjadi dari obat yang dikonsumsi oleh pasien serta penanganan nya
apabila efek samping itu terjadi. Setelah mendapatkan penjelasan-penjelasan
tersebut dari apoteker diharapkan pasien dapat mengkonsumsi obat secara teratur
dan percaya terhadap pengobatan yang didapatkannya bahwa pengobatan yang
didapatkan oleh pasien tersebut merupakan pengobatan yang tepat yang telah
dipilihkan oleh dokter maupun apoteker untuk mengontrol tekanan darah pasien
dan disesuaikan dengan kondisi pasien tersebut.
Jadi
konseling apoteker pada pasien hipertensi sangat penting dilakukan untuk
meningkatkan kepatuhan pasien hipertensi dalam pengobatannya, memberikan
pengetahuan kepada pasien mengenai dampak hipertensi yang tidak terkontrol dan membangun
kepercayaan pasien terhadap pengobatan hipertensi yang didapatkannya. Apoteker
sebagai tenaga kesehatan sudah seharusnya untuk melakukan konseling pada
pasien-pasien yang memenuhi kriteria untuk diberikan konseling seperti pasien
hipertensi agar terwujud bentuk pelayanan asuhan kefarmasian sebagai tanggung
jawab profesi apoteker. Selain itu, konseling apoteker kepada pasien penting
dilakukan sebagai bentuk kepedulian apoteker terhadap kondisi pasien. Nine
Stars Pharmacist menyebutkan bahwa apoteker adalah care giver, apoteker harus memiliki sikap peduli dan dapat
berinteraksi dengan pasien, hal ini harus diterapkan dengan sungguh-sungguh
oleh seorang apoteker salah satunya melalui konseling.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar