HAL YANG KECIL YANG BERISI HAL-HAL YANG BESAR

I Life for now and tomorrow cause Yesterday just history :D

Sabtu, 29 Oktober 2016

Pentingnya Konseling Apoteker Untuk Pasien Hipertensi

Hipertensi meupakan suatu keadaan tekanan darah lebih dari sama dengan 140/90 mmHg (sistol/diastol) yang terjadi secara presisten. Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular utama diseluruh dunia, dimana pada tahun 2000 terdapat 26% populasi dewasa di dunia mengalami hipertensi, pada tahun 2025 mendatang diperkirakan akan terjadi peningkatan penderita hipertensi sebesar 60%. Keberhasilan pengontrolan hipertensi tergolong sangat rendah dimana hanya 5-58% pasien hipertensi yang dapat mempertahankan tekanan darahnya kurang dari 140/90 mmHg.  Tujuan utama terapi hipertensi adalah mengurangi  resiko terjadinya mortalitas dan morbiditas yang berhubungan dengan kerusakan organ target misalnya kejadian kardiovaskular atau serebrovaskular, gagal jantung dan penyakit ginjal(2).
            Apoteker merupakan sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah jabatan Apoteker(3). Standar kompetensi yang harus dimiliki seorang apoteker salah satunya adalah mampu melakukan konseling sediaan farmasi dan alat kesehatan. Standar pelayanan kefarmasian di Rumah Sakit, Puskesmas dan Apotek memuat konseling apoteker sebagai salah satu pelayanan farmasi yang diberikan kepada pasien.
            Konseling obat adalah suatu aktivitas pemberian nasihat atau saran terkait terapi obat dari Apoteker kepada pasien dan/atau keluarganya. Konseling untuk pasien rawat jalan maupun rawat inap disemua fasilitas kesehatan dapat dilakukan atas inisiatif Apoteker, rujukan dokter, keinginan pasien atau keluarganya. Tidak semua pasien yang datang ke fasilitas kesehatan harus diberikan konseling. Pasien yang perlu diberikan konseling adalah pasien yang
memenuhi kriteria untuk diberikan konseling yaitu pasien dengan kondisi khusus, pasien dengan terapi jangka panjang atau penyakit kronisi, pasien yang menggunakan obat-obatan dengan instruksi khusus, pasien yang menggunakan obat dengan indeks terapi sempit, pasien yang menggunakan banyak obat dan pasien yang mempunyai riwayat kepatuhan rendah. Tujuan dilakukannya konseling adalah meningkatkan hubungan kepercayaan antara apoteker dengan pasien, menunjukkan perhatian serta kepedulian terhadap pasien, membantu pasien untuk mengatur dan terbiasa dengan obat, meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan, mencegah atau meminimalkan masalah terkait obat serta membimbing pasien dan mendidik pasien dalam penggunaan obat sehingga dapat mencapai tujuan pengobatan dan meningkatkan mutu pengobatan pasien(4).
            Apoteker perlu melakukan konseling kepada pasien hipertensi karena walaupun hipertensi merupakan suatu kondisi medis yang umum dijumpai, tetapi kontrol tekanan darah pasien hipertensi masih buruk. Apoteker harus melakukan pendekatan kepada pasien dengan cara melakukan konseling dengan memberikan pengetahuan tentang penyakitnya, memastikan pasien menggunakan obat yang telah direspkan oleh dokter dengan cara yang tepat serta memberikan edukasi kepada pasien untuk melakukan modifikasi gaya hidup. Apoteker sebagai tenaga kesehatan berada dalam posisi strategis untuk melakukan pendekatan kepada pasien, apoteker dapat menjadi perantara antara pasien dan dokter dalam hal terapi farmakologi maupun terapi non farmakologi.
Salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi pengontrolan tekanan darah pasien adalah kepatuhan, dimana kepatuhan pasien sangat beragam antara lain mendapatkan resep yang tidak utuh, menggunakan dosis yang tidak tepat, menggunakan obat diwaktu yang salah, lupa mengkonsumsi satu atau lebih dosis obat dan menghentikan pengobatan segera. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan pasien pada pengobatan penyakit yang bersifat kronis pada umumnya rendah. Pada tahun 2003, WHO mengemukakan bahwa diperkirakan terdapat 50% hingga 70% pasien hipertensi yang tidak patuh terhadap penggunaan antihipertensi yang telah diresepkan(5). Ketidakpatuhan pasien hipertensi salah satunya dapat dikurangi dengan memberikan edukasi kepada pasien mengenai gejala hipertensi yang tidak terdeteksi dan pentingnya pengobatan untuk mengontrol hipertensi. Edukasi dan komunikasi yang terjalin antara pasien dan tenaga kesehatan telah terbukti mampu meningkatkan kepatuhan terhadap pengobatan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa konseling dapat meningkatkan kepatuhan dalam menjalankan pengobatan, yang pada akhirnya dapat mencapai efek klinis yang diharapkan dari pengobatan hipertensi(6).
Pengetahuan pasien terkait hipertensi merupakan upaya pengontrolan tekanan darah pasien selain kepatuhan, khususnya pengetahuan mengenai dampak hipertensi yang tidak terkontrol(7). Konseling oleh apoteker kepada pasien mengenai dampak hipertensi yang tidak terkontrol dan bagaimana cara mencegah nya sangat diperlukan. Apoteker dapat menyampaikan kepada pasien agar hipertensinya dapat terkontrol maka pasien harus mengkonsumsi obat secara teratur sesuai dengan aturan pakainya, tidak menghentikan pengobatan secara tiba-tiba tanpa ada instruksi dari dokter, menyarankan pasien untuk rutin melakukan pemeriksaan tekanan darah, menyarankan pasien untuk melakukan modifikasi gaya hidup dan menyampaikan kepada pasien mengenai penyakit-penyakit lain yang sangat berbahaya yang akan muncul apabila hipertensi tidak terkontrol seperti arteri koroner, gagal jantung, stroke dan gagal ginjal. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa memberikan pengetahuan kepada pasien mengenai akibat yang akan muncul dari hipertensi yang tidak terkontrol meningkatkan kewaspadaan pasien terhadap peningkatan tekanan darah(8).
Konseling yang diberikan apoteker kepada pasien hipertensi dapat memberikan kepercayaan kepada pasien terhadap pengobatan yang didapatkannya. Kepercayaan terhadap pengobatan merupakan salah satu faktor yang penting dalam ketaatan pasien dalam mengkonsumsi obat dimana jika obat-obatan yang diresepkan dikonsumsi secara teratur oleh pasien maka dapat menurunkan tingkat mortalitas dan meningkatkan clinical outcome pasien(9). Apoteker dapat memberikan penjelasan kepada pasien alasan pasien diresepkan obat tersebut, menjelaskan secara singkat bagaimana cara kerja obat tersebut didalam tubuh, efek terapi yang dihasilkan dari obat tersebut serta efek samping yang mungkin terjadi dari obat yang dikonsumsi oleh pasien serta penanganan nya apabila efek samping itu terjadi. Setelah mendapatkan penjelasan-penjelasan tersebut dari apoteker diharapkan pasien dapat mengkonsumsi obat secara teratur dan percaya terhadap pengobatan yang didapatkannya bahwa pengobatan yang didapatkan oleh pasien tersebut merupakan pengobatan yang tepat yang telah dipilihkan oleh dokter maupun apoteker untuk mengontrol tekanan darah pasien dan disesuaikan dengan kondisi pasien tersebut.

            Jadi konseling apoteker pada pasien hipertensi sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan pasien hipertensi dalam pengobatannya, memberikan pengetahuan kepada pasien mengenai dampak hipertensi yang tidak terkontrol dan membangun kepercayaan pasien terhadap pengobatan hipertensi yang didapatkannya. Apoteker sebagai tenaga kesehatan sudah seharusnya untuk melakukan konseling pada pasien-pasien yang memenuhi kriteria untuk diberikan konseling seperti pasien hipertensi agar terwujud bentuk pelayanan asuhan kefarmasian sebagai tanggung jawab profesi apoteker. Selain itu, konseling apoteker kepada pasien penting dilakukan sebagai bentuk kepedulian apoteker terhadap kondisi pasien. Nine Stars Pharmacist menyebutkan bahwa apoteker adalah care giver, apoteker harus memiliki sikap peduli dan dapat berinteraksi dengan pasien, hal ini harus diterapkan dengan sungguh-sungguh oleh seorang apoteker salah satunya melalui konseling.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar